BANDUNGPRAKASA.COM.MAPOLRESTA BANDUNG, 2 Oktober 2026 – Sapu lidi di tangan Agus bukan sekadar dagangan. Di balik langkahnya, ada keluarga, sekolah anak, dan harapan terus dijaga.
Kapolresta Bandung Komisaris Besar Polisi Tri Suhartanto menemui Agus, pedagang keliling sapu lidi di Cicalengka, Jumat, 2 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut memperlihatkan sisi manusiawi pelayanan kepolisian sekaligus agenda pengecekan wilayah Polsek Rancaekek dan Polsek Cicalengka.
Udara Cicalengka Jumat, 2 Oktober 2026 terasa seperti menyimpan jeda. Di Kampung Ciawitali, RT 002 RW 008, Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Agus menerima tamu tak biasa, Kapolresta Bandung Komisaris Besar Polisi Tri Suhartanto.
Mata Agus berbinar. Ia tampak sulit menyembunyikan rasa heran saat berhadapan dengan orang nomor satu di Mapolresta Bandung.
Pertemuan itu datang setelah sosoknya ramai diperbincangkan sebagai pedagang keliling sapu lidi.
Agus bukan pemilik toko besar. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain membawa sapu lidi, menukar tenaga serta langkah panjang dengan kebutuhan rumah tangga. Dari pekerjaan sederhana itu, ia berusaha menjaga dapur keluarga menyala.
Di rumah itu, cerita keluarga Agus menjadi bagian penting dari pertemuan. Ia memiliki dua anak perempuan. Anak pertama sudah menikah, sedangkan anak kedua masih duduk di kelas VIII.
Percakapan berlangsung dalam suasana sederhana. Tidak ada panggung besar, tidak ada jarak panjang antara pejabat kepolisian dan warga. Ada tatapan, sapaan, serta kisah hidup seorang bapak keluarga.
“Ini contoh baik ya. Seorang bapak keliling jualan sapu lidi untuk keluarganya,” tutur Tri Suhartanto.
Kalimat itu menjadi penanda dari pertemuan tersebut. Di balik sapu lidi, ada kerja harian seorang ayah, ada biaya sekolah, ada kebutuhan rumah, serta ada ketekunan untuk tetap mencari penghasilan tanpa menunggu belas kasihan.
Bagi Agus, sapu lidi bukan sekadar barang dagangan. Setiap ikat membawa nilai dari perjalanan kaki serta harapan agar dua putrinya memiliki kehidupan lebih baik.
Cerita Agus menjadi kuat bukan karena pekerjaannya terdengar besar. Justru kesederhanaannya memperlihatkan cara sebagian warga bertahan melalui pekerjaan informal, dengan modal utama tenaga, keberanian menawarkan dagangan, serta kemauan untuk terus bergerak.
Setelah berbincang dengan Agus dan keluarga, Tri memberikan tali asih kepada keluarga tersebut.
Bantuan itu hadir sebagai bentuk perhatian dalam sebuah kunjungan warga, sekaligus menjadi ruang bagi kepolisian untuk melihat kehidupan masyarakat dari jarak dekat.
Pertemuan itu memperlihatkan sisi lain pelayanan publik. Warga tidak selalu hadir di kantor dengan berkas atau persoalan hukum; kadang mereka hadir melalui cerita hidup, pekerjaan sederhana, serta perjuangan menjaga keluarga.
Pengecekan Wilayah
Kunjungan Tri tidak berhenti di rumah Agus. Ia melanjutkan agenda dengan melakukan pengecekan wilayah hukum Polsek Rancaekek serta wilayah hukum Polsek Cicalengka.
Di lapangan, perhatian diarahkan pada arus lalu lintas serta anggota kepolisian sedang menjalankan pengaturan kendaraan. Aktivitas itu menjadi bagian dari pengawasan terhadap pelayanan dan situasi keamanan di wilayah hukum Polresta Bandung.
Tri kemudian menuju Mako Polsek Cicalengka. Ia memeriksa kondisi markas serta pelayanan personel di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu atau SPKT.
Ruang pelayanan menjadi titik penting dalam kunjungan itu. Di sana, masyarakat berhadapan langsung dengan petugas saat membutuhkan laporan, informasi, atau bantuan kepolisian.
Tri memberikan arahan kepada anggota. Pesannya berlangsung dalam kerangka penguatan pelayanan, kedisiplinan, serta kesiapan personel menghadapi kebutuhan masyarakat.
Tiga melati di pundaknya menjadi simbol pangkat. Namun, di tengah kunjungan itu, perhatian bergerak dari ruang komando menuju jalan tempat warga mencari nafkah, lalu kembali ke ruang pelayanan polisi.
Kisah Agus mempertemukan dua ruang berbeda. Ada jalanan tempat seorang pedagang keliling menawarkan sapu lidi, ada kantor polisi tempat personel menerima kebutuhan masyarakat.
Di antara keduanya terdapat satu benang merah, pelayanan tidak selalu berbentuk seragam, meja, atau dokumen. Bagi Agus, pelayanan dari kehidupan berarti kesempatan untuk terus bekerja; bagi polisi, pelayanan berarti hadir, melihat, mendengar, lalu memastikan tugas berjalan di lapangan.
Pertemuan Jumat itu meninggalkan gambaran sederhana tentang warga dan aparat. Agus tetap membawa kisah pekerjaannya, sementara Tri melanjutkan pemeriksaan wilayah serta pelayanan kepolisian.
Tidak ada kisah besar tentang gedung megah atau seremoni panjang. Ada seorang bapak, dua anak perempuan, sapu lidi, dan seorang pejabat kepolisian duduk dalam satu ruang percakapan.
Dari sana, sebuah pesan terasa dekat, kerja sederhana tetap memiliki martabat ketika dilakukan untuk keluarga. Sapu lidi mungkin tampak ringan di tangan, tetapi bagi Agus, setiap ikat membawa beban sekaligus harapan.
Peristiwa itu menjadi potret kecil Bandung pada hari Jumat. Sebuah kunjungan membuka cerita tentang ketekunan warga, sementara pemeriksaan wilayah mengingatkan bahwa pelayanan publik harus hadir dekat dengan kehidupan sehari hari.
Kisah Agus bukan sekadar cerita tentang sapu lidi. Ini adalah cerita tentang seorang ayah memilih berjalan, menawarkan dagangan, dan menjaga keluarganya melalui pekerjaan sederhana.
Pada saat sama, kunjungan Tri memperlihatkan dua sisi agenda kepolisian, menyapa warga serta memastikan pelayanan personel berjalan. Dua kegiatan itu bertemu dalam satu ruang bernama pengabdian kepada masyarakat.






